FILOSOFI BATIK DILIHAT DARI SEJARAHNYA



Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.
Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan Keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.
Kalaupun batik di Keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Keraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.
Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Keraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.
batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri Keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Keraton KasultananYogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta.

FILOSOFI BATIK DARI MOTIFNYA


Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian Batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari Batik keluarga tertentu. Beberapa motif Batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif Batik tadisional klasik hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Pada jaman dahulu, motif atau pola Batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya Batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni Batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Batik memang bukan sekadar lukisan yang ditorehkan pada kain dengan mengunakan canting (alat untuk membatik yang berisi malam atau lilin). Banyak jejak bisa digali dari sehelai kain Batik. Sebab motif yang ditorehkan pada selembar kain Batik selalu mempunyai makna tersembunyi. Jenis dan corak Batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam.

Belajar Membatik / persiapan membatik

Belajar Membatik : Tahap Persiapan awal membatik
Canting sebagai alat pembentuk motif,Gawangan (tempat untuk m enyampirkan kain), Lilin (malam) yang dicairkan, Panci dan kompor kecil untuk memanaskan,Larutan pewarna.
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini:
Membuat Motif atau Molani
Membuat molani, yakni membuat desain atau motif batiknya pada kain. Untuk motifnya sebenarnya tidak ada aturannya bisa bebas, tergantung selera masing-masing. Karena membatik juga bagian dari seni menggambar pada kain. Memang secara umum batik dikelompokkan menjadi dua kelompok batik klasik dan batik modern. Untuk batik klasik sudah ada pola tertentu, sedangkan batik modern tidak ada pola, motif bisa bebas.
Tahab Melukis Dengan Canting
Langkah berikutnya adalah melukis dengan canting dengan malam / lilin batik yang tela dicairkan sesuai dengan motif yang ada pada kain. Tujuannya adalah bagian yang diberi malam / lilin batik nantinya tetap berwarna putih saat pewarnaan.
Tahap Pewarnaan
Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu . Setelah diberi  warna kain dikeringkan.
Tahap Menutup Bagian Dengan Malam/ lilin batik
Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama. Lalu dilanjutkan pewarnaan yang kedua, dan dikeringkan kembali.
Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
Proses selanjutnya adalah nglorot
Dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
  • Proses terakhir adalah mencuci kain batik. dan dikeringkan – kain siap dipakai

Kendala Membatik dan Solusinya

Nah bagaimana dengan yang baru pertama kali membatik, wah tentunya akan membuat mereka menjadi kesal.  Bagaimana solusinya untuk kita bisa membatik dengan efektif.
Sudah ada canting elektrik dan juga kompor listrik yang dapat mengatasi persoalan tersebut. Tentunya kita bisa memilih salah satunya. Apabila kita sudah memiliki canting elektrik tentunya tidak usah membeli kompor elektrik dan wajannya. Apabila sudah memiliki canting biasa dan wajannya beli saja kompor elektrik.

Kompor Batik Listrik Modern Hemat


Cara kerja Kompor Batik Listrik Modern lebih mudah. Pembuat batik mecolokan pada stop contak listrik. Cara kerjanya juga mudah, hanya tinggal memasukkan lilin keras ke dalam wajan dan menunggu sebentar agar lilin itu cair. Wajan listrik elektrik ini bentuknya seperti wajan dan terbuat dari bahan yang mudah menghantarkan panas bila dialiri listrik. Ini dilakukan agar lilin yang ada bisa cepat meleleh, kemudian siap untuk menggores batik membuat suatu pola. Untuk membuat batik, selain canting yang utama, tentu ketelatenan dan kesabaran perancangnya tetap hal yang diutamakan dalam membuat batik Bagi Para pembatik atau pemula mbatik, yang ingin tidak direpotkan dengan beberapa alat untuk membantik, anda cukup mempunya Wajan Listrik yang sangat dinamis efisien praktis dan murah harganya, WajanListrik New, karya anak negri yang sudah di uji coba beberapa ahli batik.... ada pengatur suhu yang dimana bisa menggunkan suhu yang diinginkan. 



Jual kompor batik listrik,  kompor batik listrik lebih praktis dan lebih mudah dalam penggunaannya karena tidak perlu mengganti sumbu lagi. Panas yang dihasilkan oleh kompor batik listrik lebih stabil. Berminat hubungi Batik Kirani - HP : +6285211100459 (Arwie)

PEWARNA BATIK

Batik merupakan salah satu karya seni yang keindahannya.terlihat dari corak atau motifnya. Bagaikan sebuah lukisan, motif atau corak dalam berbagai warna dilukiskan di atas sehelai kain mori. warna adalah salah satu unsur pesona batik. Jika kita mengulik topik tentang warna batik, maka kita akan menemukan bahwa batik dari setiap daerah memiliki ciri warna berbeda. Batik yang berasal dari tengah pulau, atau daerah pedalaman, umumnya berwarna solid, dan lebih matang. Sedangkan batik dari daerah pesisir senantiasa dibuat dengan paduan warna cerah. Hal ini disebabkan karena warna batik cenderung menyiratkan sikap sosial masyarakat tempatnya dibuat. Masyarakat pedalaman umumnya lebih kental kekeluargaannya, dan tertutup. Sedangkan masyarakat di wilayah pesisir cenderung lebih terbuka, karena memiliki kesempatan bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat yang datang ke kota pelabuhan untuk untuk berniaga.


       Sebenarnya sesuai tradisi, warna yang digunakan pada batik tidaklah banyak. Warna tersebut adalah: Hitam, Biru tua, Soga/cokelat, Mengkudu/merah. Hijau, Kuning, Ungu
        Proses pewarnaan batik dilakukan dengan menggunakan zat warna tekstil. Yang dimaksud pewarna atau zat pewarna batik adalah zat warna tekstil yang dapat digunakan dalam proses pewarnaan batik baik dengan cara pencelupan maupun coletan pada suhu kamar sehingga tidak merusak lilin sebagai perintang warnanya.
 Tidak semua pewarna tekstil dapat digunakan untuk mewarnai batik. Hal ini dikaranakan sifat khusus batik, yaitu :
  1. Pada pewarnaan batik dikerjakan tanpa pemanasan karena batik memakai lilin batik.
  2. Lilin batik pada umumnya tidak tahan terhadap alkali kuat.
  3. Pada pekerjaan terakhir daripada proses pembuatan batik, terdapat menghilangkanlilin atau lorodan dengan air panas, tidak semua cat tahan terhadap rebusan dalam air lorodan.
Secara umum berdasarkan sumber asalnya zat pewarna dibagi menjadi 2 : Zat pewarna alami dan zat pewarna sintetis. Pada jaman dahulu proses pewarnaan tekstil menggunakan zat warna alam. Namun, seiring peningkatan kebutuhan dan kemajuan teknologi dengan ditemukannya zat warna sintetis untuk tekstil maka semakin terkikislah penggunaan zat warna alam. Zat Pewarna Alam semakin sulit ditemukan di jaman seperti sekarang ini. Berbeda dengan zat pewarna alam, zat pewarna sintetis akan lebih mudah diperoleh di pasaran, ketersediaan warna terjamin, jenis warna bermacam macam, dan lebih praktis dalam penggunaannya
Zat pewarna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Pengrajin-pengrajin batik telah banyak mengenal tumbuhan-tumbuhan yang dapat mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah :
1. Indigo (Indigofera tinctoria) tanaman perdu yang menghasilkan warna biru. Bagian tanaman yang diambil adalah daun/ranting.
2. Kelapa (Cocos nucifera) bagian yang dijadikan bahan pewarna adalah kulit luar buah yang berserabut (sabut kelapa). Warna yang dihasilkan adalah krem kecoklatan.
3. Teh (Camelia sinensis) bagian yang diolah menjadi pewarna adalah daun yang telah tua, dan warna yang dihasilkan adalah cokelat.
4. Secang (Caesaslpinia Sapapan Lin) jenis tanaman keras yang diambil bagian kayu, untuk menghasilkan warna merah. Warna merah adalah hasil oksidasi, setelah sebelumnya dalam pencelupan berwarna kuning.
5. Kunyit (Curcuma domestica val) Bagian tanaman yang diambil adalah rimpang, umbi akar, yang menghasilkan warna kuning.
6. Bawang Merah (Allium ascalonicium L) Bagian bawang merah yang digunakan sebagai bahan pewarna adalah kulit dan menghasilkan warna jingga kecoklatan.

            Mori yang diwarnai dengan zat warna alam adalah yang berasal dari serat alam contohnya sutera, wol dan kapas (katun). Sedangkan mori dari serat sintetis seperti polyester , nilon dan lainnya tidak memiliki afinitas (daya serap) terhadap zat warna alam sehingga zat warna alam tidak bisa menempel dan meresap di mori sintetis tersebut. Bahan dari sutera pada umumnya memiliki afinitas paling bagus terhadap zat warna alam dibandingkan dengan bahan dari kapas.
             Salah satu kendala pewarnaan mori menggunakan zat warna alam adalah variasi warnanya sangat terbatas dan ketersediaan bahannya yang tidak siap pakai sehingga diperlukan proses-proses khusus untuk dapat dijadikan larutan pewarna mori. Oleh karena itu zat warna alam dianggap kurang praktis penggunaannya. Selain itu Karena terbuat dari bahan-bahan alami, pewarna alami relatif tidak seawet pewarna kimia. Hal ini menyebabkan warna batik cenderung cepat memudar jika dicuci dengan detergen biasa. Semula para pencinta batik menggunakan pembersih alami dari buah Lerak. Tetapi kini telah ditemukan sejenis detergen khusus yang mampu membersihkan batik, namun tidak memudarkan warnanya. Namun dibalik kekurangannya tersebut zat warna alam memiliki potensi pasar yang tinggi sebagai komoditas unggulan produk Indonesia memasuki pasar global dengan daya tarik pada karakteristik yang unik, etnik dan eksklusif.
           Zat pewarna sintetis adalah zat pewarna yang dibuat menurut reaksi-reaksi kimia tertentu. Jenis zat warna sintetis untuk tekstil cukup banyak, namun hanya beberapa diantaranya yang dapat digunakan sebagai pewarna batik.Hal ini dikarenakan dalam proses pewarnaan batik suhu pencelupan harus pada suhu kamar. Adapun zat warna yang biasa dipakai untuk mewarnai batik antara lain:
 1. Zat warna naphtol
Zat warna naptol terdiri dari komponen naptol sebagai komponen dasar dan komponen pembangkit warna yaitu garam diazonium atau disebut garam naptol. Zat warna ini merupakan zat warna yang tidak larut dalam air. Untuk melarutkannya diperlukan zat pembantu kostik soda. Pencelupan naphtol dikerjakan dalam 2 tingkat. Pertama pencelupan dengan larutan naphtolnya sendiri (penaphtolan). Pada pencelupan pertama ini belum diperoleh warna atau warna belum timbul, kemudian dicelup tahap kedua/dibangkitkan dengan larutan garam diazodium akan diperoleh warna yang dikehendaki. Tua muda warna tergantung pada banyaknya naphtol yang diserap oleh serat. Dalam pewarnaan batik zat warna ini digunakan untuk mendapatkan warna-warna tua/dop dan hanya dipakai secara pencelupan.
2. Zat warna indigosol
Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna yang ketahanan lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat warna ini dapat dipakai secara pecelupan dan coletan . Pada saat kain dicelupkan ke dalam larutan zat warna belum diperoleh warna yang diharapkan. Setelah dioksidasi/dimasukkan ke dalam larutan asam (HCl atau H2SO4) akan diperoleh warna yang dikehendaki. Obat pembantu yang diperlukan dalam pewarnaan dengan zat warna indigosol adalah Natrium Nitrit (NaNO2) sebagai oksidator. Warna yang dihasilkan cenderung warna-warna lembut/pastel.
3. Zat warna rapid
Zat warna rapid biasa dipakai untuk  coletan jenis rapid fast.  Zat warna ini adalah campuran komponen  naphtol dan garam  diazonium yang distabilkan, biasanya paling banyak dipakai  rapid merah, karena warnanya cerah dan tidak ditemui di kelompok indigosol. Untuk membangkitkan warna difixasi dengan asam sulfat atau asam cuka. Dalam pewarnaan batik, zat warna rapid hanya dipakai untuk pewarnaan secara coletan.
4.   Zat warna indigosol
Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna yang ketahanan lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat warna ini dapat dipakai secara pecelupan dan coletan . Warna dapat timbul setelah dibangkitkan dengan Natrium Nitrit dan Asam/ Asam sulfat atau Asam florida. Warna yang dihasilkan cenderung warna-warna lembut/pastel. Dalam pembatikan zat warna indigosol dipakai secara celupan maupun coletan.
Selain Zat pewarna, dalam proses membatik dikenal juga istilah zat pembantu. Yang dimaksud dengan zat pembantu adalah zat-zat yang digunakan sebagai penyempurnaan proses pembatikan, yaitu antara lain: caustic soda, soda abu, TRO (Turkish Red Oil), teepol, asam chloride, asam sulfat, tawas, kapur, obat ijo/air ijo dan minyak kacang.
Zat- Zat pembantu tersebut antara lain :
a. 
Caustic soda atau soda api digunakan untuk mengetel mori atau melarutkan lilin batik. 
b. 
Soda Abu atau Na2CO3, digunakan untuk campuran mengetel(mencuci), untuk membuat alkali pada air lorodan (proses pengelupasan lilin) dan untuk menjadi obat pembantu pada celupan cat Indigosol. 
c. 
Turkish Red Oil digunakan untuk membantu melarutkan cat batik atau sebagai obat pembasah untuk mencuci kain yang akan di cap. 
d. 
Teepol digunakan sebagai obat pembasah, misalnya untuk mencuci kain sebelum di cap. 
e. 
Asam Chlorida atau air keras digunakan untuk membangkitkan warna Indigosol atau untuk menghilangkan kanji mori. 
f. 
Asam sulfat atau asam keras digunakan untuk membangkitkan warna Indigosol
g. 
Tawas digunakan sebagai kancingan atau fixeer pewarna tumbuhan. 
h. 
Kapur digunakan untuk melarutkan cairan Indigo. 
i. 
Obat ijo atau air ijo digunakan agar pewarna mempunyai ketahanan pada proses pengelupasan lilin. 
j. 
Minyak kacang digunakan untuk mengetel (mencuci) mori sehingga mori menjadi lemas dan naik daya serapnya.

SABUN LERAK UNTUK MENCUCI BATIK

Mencuci baju batik tidaklah sama dengan mencuci baju pada umumnya, karena baju batik dibuat dengan bahan yang berbeda dengan baju biasa, oleh karena diperlukan kehati-hatian dalam mencuci baju batik agar warnanya tidak luntur dan pudar,. Banyak cara yang dapat kita gunakan untuk menuci baju batik salah satunya adalah dengan menggunakan sabun lerak.
Sabun lerak adalah sabun pencuci batik yang terbuat dari ekstrak buah dari tanaman Lerak. Tumbuhan lerak masih satu suku dengan tanaman rambutan yaitu termasuk ke dalam Sapindaceae , berbentuk pohon dan rata-rata tinggi pohon lerak adalah sekitar 10 meter bahkan bisa mencapai hampir 50 meter dengan diameter 1 meter, bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat.

                                        
                                                       Gambar pohon dan buah lerak.
 
Buah lerak mengandung senyawa Saponin, zat inilah yang menghasilkan busa dari buah lerak. Saponin adalah kelas senyawa kimia yang memiliki kemampuan untuk membersihkan dan mencuci. Dan dari berbagai percobaan, saponin terbukti mempunyai kemampuan pembersih yang sangat baik yang mampu menghapus kotoran dari segala macam dari kain, gelas, lantai, emas, jendela, bahkan memandikan dan membersihkan binatang peliharaan dan lainnya. Saponin sangat efektif juga lembut dan ramah lingkungan. Karena kelembutannya, saponin mempertahankan warna dan struktur kain yang berharga lebih lama dari deterjen biasa atau sabun merek apapun. Anda bisa menyebut saponin sebagai salah satu alternatif sabun dari alam.Untuk menggunakan buah lerak sebagai sabun pencuci, caranya adalah : Keringkan buah lerak, kemudian ditumbuk halus dan dicampur air hangat. Larutan ini dapat digunakan untuk merendam batik selama semalam. Lerak juga bisa digunakan untuk mencuci pakaian biasa, bahkan membuat pakaian lebih awet karena tidak mengandung bahan-bahan deterjen. Masukkan 3-5 buah lerak ke dalam empat gelas air panas, lalu diremas-remas sampai muncul saponin atau buih-buih alami. Campurkan cairan saponin itu ke tempat cucian yang sudah diisi air. Saponin ini bekerja sebagai surfaktan, yang membuat air cucian "lebih basah". Akibatnya, saponin mudah masuk ke dalam serat-serat kain yang dicuci, mengikat kotoran yang melekat, dan melepas kotoran tadi dari kain cucian. Lerak juga bisa digunakan dalam mesin cuci. Caranya, masukkan 3-5 buah lerak ke kantong kain yang tersedia, lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. Hindari penggunaan deterjen, bahan pengharum (fragrance), maupun pelembut (softener).
Atur suhu air pada keadaan dingin/sedang dengan putaran normal, lalu mulailah mencuci. Agar bekerja efektif dan optimal, usahakan lerak dapat bersirkulasi secara bebas dan tidak terjebak dalam lipatan kain berukuran besar (misalnya seprai).Untuk mengharumkan pakaian, Anda dapat menambahkan beberapa tetes essential oil yang disukai. Jika menggunakan mesin cuci, buah lerak dapat digunakan untuk tiga kali pemakaian.
Saat ini di pasaran telah juga tersedia produk lerak cair dalam kemasan yang lebih praktis sehingga bisa langsung dipakai. Sehingga kita suda tidak perlu repot-repot lagi mencari buah lerak dan membuat sendiri sabun pencuci dari buah lerak. Harga produk lerak cair pun cukup terjangkau. Nah silahkan berburu produk lerak cair di pasar, dan pastikan baju batik anda tetap terawat dengan baik, sehingga tetap menarik saat dikenakan.

JENIS-JENIS KAIN ATAU BAHAN


  Dalam pembuatan pakaian baik itu kaos, kemeja, celana, dan lain-lain, digunakan berbagai ,macam, jenis bahan atau kain. Dalam pemilihannya, bahan disesuaikan dengan fungsi dari pakaian tersebut. Bahan yang lembut dan nyaman biasa digunakan untuk pakaian bayi, atau bahan katun kombed yang biasa digunakan untuk kaos anak.

         Jenis-Jenis Kain atau bahan antara lain :
1. Kain Katun
     Kain katun termasuk kedalam jenis kain rajut (knitting) yang berbahan dasar serat kapas.
 Kain rajut dibuat dari jeratan – jeratan benang / mengaitkan benang dengan benang. Cirinya kain jenis ini adalah dapat di tarik atau elastis
      Terdapat jenis kain yang mirip dengan kain katun yaitu kain PE. Cara mudah membedakannya adalah apabila kain katun dibakar maka baunya seperti kertas atau kayu dibakar dan akan menjadi abu serta jalannya api lambat
 Keunggulan:
1. Tidak kisut apabila dicuci
2. Tidak luntur untuk bahan berwarna
3. Mudah disablon
4. Menyerap keringat.
5. Tidak berbulu
6. Bahan terasa dingin   
       Adapun karena kain katun termasuk jenis kain rajut, maka kain jenis ini rentan terhadap jamur, dan akan rusak bila direndam lebih dari 2 jam dalam detergen.
 2. Kain PE
      Kain PE (Poly Ester) adalah kain yang tingkatnya berada di bawah katun.Bahan dasarnya adalah benang polyester. Sama dengan katun, PE juga tersedia dalam bentuk bahan kaos oblong, lacoste/adidas, maupun pike. Kekuatan, elastisitas yang baik dari serat polyester menghasilkan kain yang mempunyai ketahanan yang baik terhadap lekukan atau kekusutan sehingga tidak memerlukan penyetrikaan panas.
     Untuk kain kaos yang berbahan dasar PE bentuk dan teksturnya hampir mirip dengan kain kaos yang berbahan dasar katun (cotton). Cara mudah membedakannya adalah kain PE apabila dibakar maka baunya sepertiplastik dibakar, jalan apinya cepat dan akan menjadi arang.Pada beberapa jenis PE untuk bahan kaos, kain ini rawan kisut apabila dicuci dan mudah luntur. Pada jenis PE untuk bahan sweater, biasanya suka berbulu sesudah beberapa kali dicuci. Kain jenis ini juga memiliki daya serap lembabnya rendah dan kekakuan yang tinggi sehingga kenyamanan berkurang.
3. Denim.
    Denim dikenal juga sebagai bahan jean. Semakin gelap warnanya, semakin mudah mencari padanannya. Selain itu juga denim yang berwarna gelap akan terlihat lebih rapi dan formal daripada yang terang dan belel.
4. Linen
     Kain ini memiliki tekstur berkerut. Perlu berhati-hati dalam memilih kain jenis ini Tapi  sampai kerutannya malah menganggu penampilan Anda.
5. Lycra
     Lycra dikenal juga dengan spandex, biasanya dipadukan dengan bahan pakaian lainya, karena    kandungannya hanya beberapa persen saja. Tapi bahan pakaian yang terbuat dari unsure lycra akan lebih tahan lama kerapiannya. Kain ini mempunyai sifat elastisitas yang tinggi, kuat dan memiliki ketahanan gosokan yang tinggi
6.  Kain Pique
     Kain ini biasa digunakan untuk membuat kaos polo/kerah/wangki. Untuk membuat kaos kerah tersebut biasanya digunakan kerah jadi. Kerah jadi adalah bahan kerah yang sudah jadi diproduksi oleh pabrik dan tinggal jahit. Kerah bikin adalah kerah yang dibuat sendiri oleh tukang jahit dengan menggunakan bahan yang sama dengan bahan kaos (katun kombed dan karded) dengan menambahkan kain keras di dalamnya.
7. Light weight wools
       Di kepala Anda, kain wol mungkin langsung identik dengan bahan yang berat. Untuk lightweight wools, sesuai dengan namanya, kain wol ini tergolong ringan dan bisa dipadukan dengan apa saja. Jatuhnya di badan pun enak dilihat. Kelebihannya, kain ini agak ‘bandel’ alias tahan banting (awet).
8. Akrilit
     Bahan untuk membuat kemeja. Biasanya dikombinasikan dengan rompi berbahan light weight wools. Kekurangan dari bahan ini adalah kenyamanan dalam pemakaian. Kelebihannya adalah walaupun seratnya tidak mampu menyerap air namun berasa lembab bila digunakan dan acrylic bersifat lebih cepat kering dibandingkan dengan serat sintetik lainnya
9. Paragon
     Jenis kain yang halus seperti kapas.Umumnya digunakan bahan pembuatan Baju Olahraga, seperti Baju Basket.
10. D’Tree
     Kain berpori penyerap keringat. Sama dengan bahan Paragon, Kain jenis ini digunakan juga untuk baju olah raga
11. Baby Tray
       Jenis kain yang bersifat tebal dan halus serta tidak berbulu. Bagian dalamnya lembut seperti    selimut. Biasa digunakan untuk bahan Jumper/Sweeter.
12. Kain Drill
     Kain ini memiliki permukaan yang berserat garis-garis miring / ngdrill. Berdasarkan besar kecilnya serat secara umum dibagi 3 jenis : twill drill( serat kecil ), american drill ( serat sedang ), japan drill ( serat besar ).. Kualitas/harga kain drill menyesuaikan dengan bahan dasarnya, semakin banyak kadar cottonnya maka harganya semakin mahal.
 13. Tropical
    Kain ini memiliki teksturnya rata tidak seperti drill. Jalinan benang-benang pintalan kain semacam jalinan titik-titik seperti pixel dalam resolusi gambar. Secara umum lebih tipis dari kain drill.  Semakin banyak komposisi bahan cottonnya, maka semakin comfort dipakai
Batik adalah salah satu cipta budaya tinggi bangsa Indonesia. Batik telah disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia, mengikuti wayang (2003) dan keris (2006) yang sudah lebih dulu diakui oleh UNESCO. Kita memiliki jenis batik yang sangat kaya. Secara garis besar, batik dikelompokkan menjadi 2 yakni Batik Keraton Jawa dan Batik Pantai Utara. Batik keraton Jawa pun ada dua macam, yaitu Batik Yogya dan Batik Solo.